Jumat, 01 April 2011

Puring / Croton

ini merupakan laporan kuliah saya pada saat kuliah tanaman hias "tanaman PURING" :

I. Sejarah
Puring merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini pertama kali diberi nama oleh penemunya yang berasal dari Belanda pada tahun 1690 oleh G.E Rumphius. Rhumpius memberi nama Codiaeum pada tanaman ini. Pada tahun 1762 Carl Von Linne memberi nama populer pada tanaman ini dengan nama Croton (Rahma, 2009).
Codiaeum variegatum adalah nama ilmiah yang di berikan oleh penemunya G.E Rumphius pada tahun 1628 – 1702 yang merupakan seorang berkewarganegaraan Belanda dan lahir di jerman. Tanaman ini bercirikan warna daun yang tidak hijau rata tetapi cenderung variegeta yang kemudian di deskripsikan variegatum. G.E Rumphius menemukan sekitar sembilan jenis puring dan menamakannya Codiaeum (Budiarto,2007)
Puring merupakan salah satu famili Euphorbiaceae. Tanaman asli Maluku ini di temukan 400 tahun yang lalu, dan di kenal dengan tanaman penghias makam di pulau Jawa, sedangkan di Indonesia Timur tanaman ini di kenal dengan tanaman penghias halaman rumah. Puring merupakan tanaman yang mempunyai variasi jenis yang unik. Banyaknya jenis selain spesies asli di karenakan terjadinya penyilangan-penyilangan yang di lakukan oleh manusia maupun oleh serangga. Keragaman juga dapat di akibatkan karena adanya mutasi pada tanaman (Budiarto, 2007)
Puring merupakan salah satu tanaman daun yang cukup popular di kalangan penggemar tanaman hias. Daya tarik puring antaranya adalah pada corak, warna dan bentuk daunnya yang sangat bervariasi. Tanaman yang sangat menyukai sinar matahari ini akan menampilkan daun yang lebih cemerlang apabila di letakkan ditempat terbuka yang mendapat sinar matahari penuh (Purwanto, 1999).
Beragam variasi daun yang di miliki puring merupakan salah satu keunggulan tanaman ini. Hal ini memungkinkan di buatnya silangan-silangan baru. Kebanyakan puring hibrida yang banyak di buru adalah yang memiliki warna daun lain dari biasanya. Ada juga yang menyukai bentuk daun dengan corak yang menyimpang dari spesiesnya (Purwanto,1999).
Setiap bangsa memiliki kesukaan yang berbeda-beda terhadap warna, corak dan bentuk puring. Thailand menyukai jenis-jenis seperti turtleback dan apple, sedangkan Belanda menyukai daun oval yang besar. Indonesia dan India lebih suka pada jenis yang berdaun lebar dan besar. Jenis-jenis seperti kipas dewa, vinola bangalore, tongue fire dan red dragon banyak di cari di Indonesia (Budiarto, 2007).

II. Botani Tanaman

Sistematika tanaman puring (Codiaeum variegatum) :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Codiaeum
Spesies : Codiaeum variegatum (Wikipedia, 2008)
Menurut Steenis (2003), Puring merupakan tanaman perdu atau pohon kecil, tinggi 1,5 – 3 meter. Daun sangat variabel, bentuk dan warnanya : memanjang , bentuk lanset, bentuk pita, tepi rata, berlekuk, berbagi tiga, berlipat, helaian daun terputus oleh bagian tulang daun tengah yang hijau, kuning, merah warna-warni. Daun penumpu tidak ada. Tanaman berumah satu ; bunga dalam tandan panjang, berkelamin satu, diketiak. Bunga jantan terkumpul dalam kelompok ; tangkai bunga sehalus rambut, panjang ; daun kelopak lima, segi tiga, melengkung membalik, melekat pada pangkalnya ; daun mahkota sangat kecil ; benang sari 15-35, lepas, tertancap di dalam tonjolan dasar bunga yang pipih dan melekuk. Bunga betina berdiri sendirisepanjang sumbu tandan, bertagkai pendek dan tebal; kelopak berlekuk lima, bakal buah bentuk kerucut; tangkai putik melekat di bawah, ketiga cabang keujung semakin tipis. Buah bentuk bola, membentuk kedalam dua kendaga seperti katup.
Menurut Rahma (2009), karakteristik tanaman puring adalah :
1. Daun
Bentuk daun tanaman puring sangat bervariasi, ada yang berbentuk bulat telur (ovatus), lonjong (oblongus), jorong (ellipticus) dan ada juga yang berbentuk pita (Linear). Masing-masing daun mempunyai corak dan warna yang berbeda-beda.
Tepi daun puring ada yang rata, bergelombang dan berpilin. Ujung daun puring ada yang berbentuk runcing (acutus), tumpul (obtusus) dan meruncing (acuminatus).
Daun puring tersusun berselang-seling atau saling berhadapan dan duduk pada ruas batang tanaman. Daun yang masih muda akan selalu berwarna hijau cerah. Seiring dengan perkembangannya, daun-daun baru ini akan berubah warnanya sesuai dengan jenisnya. Ciri khas puring adalah dengan perkembangan tanaman ini warna daun muda akan berbeda dengan warna daun tua. Akibatnya akan terjadi perpaduan warna yang sangat indah.
Daun puring mengandung senyawa saponin, flavanoida, dan polivenol. Inilah penyebab mengapa tanaman ini kadang-kadang dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
2. Batang
Bentuk batang Puring ada dua macam yaitu bulat dan bersudut. Pertumbuhan batang tegak dan menjulang keatas dengan percabangan banyak. Seperti tanaman Euphorbiaceae lainnya, batang puring bergetah. Semakin lama umur tanaman maka batang akan berkayu dan mengeras.
3. Bunga
Puring merupakan tanaman berumah satu (monoeciouse). bunga jantan dan bunga betina terpisah dalam tandan bunga yang berbeda. Puring termasuk tanaman protandri, yaitu bunga jantan akan muncul dan masak terlebih dahulu dibanding bunga betina.
Bunga tersusun berangkai dalam satu tangkai bunga. Setiap bunga mempunyai 5-10 tangkai benang sari. Bunga betina hanya tersusun dari mahkota bunga semu, pistil (putik), dan ovari (bakal buah). Kepala putik merupakan rongga atau lubang dangkal berisi cairan kental (agak lengket). Lubang ini merupakan tempat meletakkan pollen dan masuknya tabung pollen ke dalam ovari pada waktu penyerbukan.
4. Buah dan Biji
Buah puring berbentuk bulat. Pada saat muda, buah berwarna hijau berkilat, dan kemudian berubah menjadi hijau tua kusam setelah buah tua. Biji juga berbentuk bulat, terdapat di dalam buah.

III. Budidaya tanaman
A. Syarat Tumbuh
Menurut Rahma (2009), syarat tumbuh tanaman puring adalah :
1. Cahaya
Puring tumbuh dengan sinar matahari penuh. Tetapi, puring juga dapat tumbuh di tempat yang teduh. puring membutuhkan sinar matahari dalam proses metabolismenya, terutama dalam proses fotosintesis. Tanpa sinar matahari, proses tumbuh dan berkembangnya tanaman akan terhambat. Intensitas cahaya adalah banyaknya cahaya yang diterima setiap tanaman setiap harinya. Kebutuhan intensitas cahaya puring berkisar antara 90-100%, dengan lama penyinaran 10-12 jam/hari. Oleh karena itu, pada umumnya puring tidak membutuhkan naungan. Jika cahaya terlalu sedikit, warna daun tidak cemerlang, rata-rata warna yang muncul hanya hijau.
2. Temperatur
Puring tumbuh paling ideal pada temperatur antara 20-35 derajat celcius. Suhu tersebut merupakan suhu rata-rata di Indonesia. Pada suhu rendah, daun akan lebih sempit tetapi tebal, sedangkan pada suhu tinggi, daun akan lebih lebar tetapi tipis.
3. Kelembaban
Puring menyukai kelembaban sedang. Kelembaban optimal untuk puring berkisar antara 30-60%. Puring mampu tumbuh di daerah kering. Kelembaban yang terlalu tinggi perlu diwaspadai karena akan merangsang munculnya serangan hama dan penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan.
4. Media Tumbuh
Menurut Anonim (2008), Media tumbuh yang baik bagi puring adalah mampu mengikat, menyimpan air dan hara dengan baik, memiliki sistem sanitasi, aerasi dan drainase yang baik, sehingga tidak menjadi sumber penyakit dan bersifat tahan lama. Jangan sampai kondisi media tanam tersebut terlalu lembab.
Komposisi media tumbuh puring bisa terdiri atas tanah merah, humus daun, sekam bakar, pupuk kandang dan bambu.
5. Penyiraman
Puring akan tumbuh baik bila kebutuhan air tercukupi. Penyiraman dilakukan satu kali sehari, pagi atau sore jika kondisi panas, atau dua hari sekali jika kondisi hujan, atau jangan disiram jika kondisi media masih basah. Kelebihan air bisa menyebabkan akar busuk yang ditandai dengan rontoknya daun-daun muda (Anonim, 2008).
B. Perbanyakan Tanaman
Ada beberapa cara perbanyakan yang dapat dilakukan terhadap Puring. Secara umum ada dua cara, yaitu secara generatif dan secara vegetatif. Secara generatif adalah dengan penyerbukan pada bunga puring, selanjutnya hasil perkawinan menjadi biji yang dapat ditanam menjadi tanaman baru. Perbanyakan dengan cara kawin ini, memungkinkan didapatnya spesies baru yang tidak sama dengan induknya. Sedangkan perbanyakan secara vegetatif, dapat dilakukan dengan setek, cangkok, okulasi serta grafting. Perbanyakan tanpa kawin akan menghasilkan tanaman yang identik dengan induknya (Budiarto, 2007).
Menurut Budiarto (2007), perbanyakan tanaman puring secara vegetatif dapat di lakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Perbanyakan dengan stek
Puring adalah tanaman berkayu, yang biasa diperbanyak dengan stek batang, sambung dan okulasi mata tunas. Untuk setek, pilih tanaman yang berbatang keras, dan ada mata tunas aktif. Media tanam bisa dipilih dari cocopeat atau tanah merah atau campuran tanah merah, cocopeat dan sekam bakar, atau menggunakan oasis.
Potong tanaman yang akan disetek, dengan menggunakan pisau atau menggunakan gunting tanaman. Kurangi daun yang ada, dan sisakan daun muda 1-2 helai dan daun tua 1-2 helai. Daun yang terlalu banyak akan mempercepat penguapan dan mengurangi kecepatan perakaran. Selanjutnya potongan direndam dalam larutan supertrieve 0,5 ml/liter air, selama 10 menit. Jika media menggunakan oasis, potong oasis bentuk dadu dengan ukuran 3 x 3 x 3 cm3. Rendam dahulu potongan oasis dalam larutan fungisida (dithane M45 0,5 gram/liter dan Bactocyn 0,5 ml/liter air) selama 10 menit, baru bisa digunakan. Selanjutnya tusukkan batang puring sedalam 1,5 sampai 2 cm kedalam oasis, dan tempatkan didalam trai. Jika mengunakan media cocopeat, atau campuran tanah merah, cocopeat dan arang sekam (campuran 1:1:2) basahi media tanam dengan air bersih sampai jenuh, dan tempatkan adalam pot. Selanjutnya potongan puring dimasukkan dalam pot sedalam 4-5 cm, sambil memadatkan media tanam. Untuk menopang agar potongan tanaman dapat tegak, dapat dibantu dengan potongan bambu. Tanaman yang baru disetek harus dapat berdiri tegak dan tidak mudah goyah, karena apabila mudah goyah, bisa mengakibatkan akar yang baru muncul bisa patah. Tempatkan tanaman pada naungan 65 sampai 75 %.
Perawatan awal dari tanaman yang disetek adalah menjaga kelembaban tetap stabil misalnya dengan teknologi mistroom atau dengan disungkup dengan plastik. Akar akan muncul 1-2 cm, 3 minggu setelah disetek. Jika penyetekan menggunakan oasis, setelah muncul akar segera pindahkan ke pot dengan media tanam campuran dari cocopeat, tanah merah dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:2.
2. Perbanyakan dengan cangkok
Pencangkokan pada Puring, dilakukan pada batang yang sudah tua, ditandai dengan warna yang gelap dan tidak hijau. Buat dua sayatan melingkar dengan jarak 1 cm pada batang yang akan dicangkok, dan kupas kulit sampai kambium. Tempelkan media tanam yang sudah dibasahi air (dapat menggunakan cocopeat atau peat moss) dan ditutup menggunakan plastik berlubang atau daun pisang yang kering. Kalus akan tumbuh 2-3 minggu setelah pencangkokan, dan 2-3 bulan setelah itu, tanaman dapat dipisahkan dari induknya dengan cara memotong batang dibawah cangkokan, selanjutnya ditanam dengan media cocopeat, tanah merah dan arang sekam (campuran 1:1:2). Untuk mempercepat tumbuhnya kalus dan akar saat pencangkokan, bidang luka diberi rotone F atau bahan lain yang berfungsi mempercepat perakaran.
3. Perbanyakan dengan cara sambung
Perbanyakan dengan sambung, lebih diutamakan dengan sambung pucuk, karena lebih cepat tumbuh. Penyambungan dilakukan pada batang bawah yang sudah memiliki akar yang cukup. Hal terpenting pada penyambungan tanaman berkayu seperti puring adalah kambium dari batang atas harus bertemu dengan kambium dari batang bawah. Penyambungan dapat dilakukan dengan penyambungan huruf V, atau dengan menyayat batang bawah dan memasukan batang atas yang telah dipotong bentuk V. Selanjutnya bidang sambung diikat dengan menggunakan plastik, dan disungkup. Tempatkan tanaman dalam naungan antara 65 sampai 75%. 2-3 minggu setelah penyambungan, tunas baru mulai muncul, dan plastik penyungkup dibuka, sedang ikatan sambung dibuka setelah 1-2 bulan.
4. Perbanyakan dengan okulasi mata tunas
Perbanyakan dengan okulasi, dilakukan pada batang bawah yang sudah cukup tua, ditandai dengan warna gelap pada batang, dan tidak berwarna hijau. Okulasi dimulai dengan membuat bidang sayatan pada batang bawah yang memiliki mata tunas. Buat sayatan bentuk segi empat mengelilingi mata tunas. Buka sayatan sampai kambium mengelupas. Selanjutnya buat sayatan serupa pada batang atas untuk mengambil mata tunasnya, dan tempelkan sayatan tersebut pada batang bawah. Ikat hasil penyatuan tersebut. 2-3 minggu setelah okulasi, tunas baru mulai tumbuh.
C. Perawatan Tanaman
Puring adalah tanaman out door, biasanya ditempatkan pada cahaya matahari penuh, kecuali saat perbanyakan, puring ditempatkan dengan menggunakan naungan. Cahaya matahari adalah salah satu faktor penting dalam pembuatan pigmen daun puring. Cahaya matahari penuh, menjadikan puring yang memiliki pigmen warna yang dapat muncul secara terang, dan kekurangan cahaya matahari lebih dari separuh, akan mengakibatkan warna yang keluar cenderung warna hijau saja. Namun demikian, penempatan dalam naungan akan mengakibatkan daun croton membesar secara maksimal (Budiarto, 2007).
Menurut Budiarto (2007), puring dapat tumbuh dengan baik pada tanah topsoil di Indonesia, yang sebagian terdiri atas tanah liat. Namun demikian, jika akan menempatkan tanaman croton pada tanah, buatlah lubang tanam berukuran 30 x 30 cm2 dengan kedalaman minimal 30 cm. Selanjutnya lubang tanam diberi pupuk kandang yang dicampur dengan tanah. Tanaman yang akan ditanam adalah tanaman yang sudah memiliki akar sempurna, minimal 2 bulan sejak penyetekan atau cangkok. Tanaman yang baru ditanam ditanah, harus disiram setiap pagi selama minimal 1 bulan pertama, apalagi jika musim kemarau.
Croton membutuhkan pupuk yang seimbang untuk pertumbuhannya, karena keindahan croton terletak di daun, bukan bunga. Pemupukan, dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk cair (gandasil/growmore/hyponek) seminggu sekali 1 ml/liter air. Aplikasi dapat dilakukan dengan menyemprotkan pupuk di daun, atau disiram di media tanamnya. Pemupukan juga dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk slow release (dekastar/osmocote/multicote) 3-5 bulan sekali, atau pupuk NPK seimbang, 2 bulan sekali. Penggunaan pupuk NPK sebaiknya ditambah pupuk mikro, atau penggunaan pupuk kandang (Budiarto, 2007).
D. Hama dan Penyakit Tanaman
Menurut Budiarto (2007), beberapa hama utama pada Puring adalah Mealibug, thrips dan kutu merah. Sedangkan penyakit utama pada croton adalah busuk batang dan busuk pucuk.
Serangan Mealibug ditandai dengan adanya hama berwarna putih dilindungi tepung pada daun atau pada batang. Biasanya serangan dimulai pada pucuk muda dan meluas pada daun dan batang tua. Mealibug akan menghisap cairan daun, sehingga serangan berat dapat mengakibatkan daun menguning. Seringkali kemunculan mealibug diikuti oleh embun jelaga atau noda warna hitam diatas daun. Embun jelaga adalah jamur yang memakan kotoran mealibug berupa nektar. Jika Mealibug telah menghilang, maka dengan sendirinya embun jelagapun akan mati. Pada beberapa kasus, serangan Mealibug maupun thrips, akan mengakibatkan daun muda menjadi malformasi atau tumbuh tidak sempurna, mengeriting. Hal tersebut dapat terjadi karena kedua hama tersebut dapat menjadi vektor atau perantara virus. Virus keriting daun atau Tobaco Mozaic Virus adalah virus yang masuk kedalam daun dengan perantara hama, dan selanjutnya mempengaruhi protein dan mengakibatkan jaringan tumbuh tidak normal. Serangan virus pada stadium awal, dapat diobati dengan memotong tangkai tanaman yang telah terserang dan dibakar. Namun jika serangan sudah meluas, biasanya keriting tidak hanya menyerang daun muda tetapi akan menjalar ke daun dibawahnya dan menjadi sulit untuk dihentikan (Budiarto, 2007).
Mealibug lebih menyukai tempat yang lembab dan kurang cahaya matahari, sehingga untuk mengurangi hama tersebut, dapat dilakukan dengan dengan jarak tanam yang lebih longgar. Jika hama mulai menyebar, dapat dikendalikan dengan pestisida dari jenis Insektisida. Misalnya Diazinon, Pegasus, Schumec, dan metindo (Budiarto, 2007).
Thrips dapat menyerang daun muda maupun bunga dengan cara menghisap cairan jaringan tersebut. Serangan thrips juga dapat diikuti dengan pengeritingan daun akibat adanya virus yang masuk kedalam jaringan tanaman. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan penyemprotan Insektisida (Budiarto, 2007).
Daun tanaman puring sering berubah dari daun besar atau oval menjadi kecil seperti keriting dan memanjang. Sebagian orang mengira, hal tersebut adalah penyakit oleh virus, tapi sebenarnya adalah respon terhadap kekurangan pupuk. Pemberian pupuk yang seimbang akan mengobati masalah tersebut (Budiarto, 2007).
Penyakit yang sering muncul adalah busuk batang atau busuk pucuk. Keduanya mudah muncul saat lingkungan lembab, misalnya pada musim hujan. Tanaman yang kekurangan pupuk, lebih mudah terkena penyakit. Pemberian pupuk yang seimbang, serta menambah pupuk dengan unsur Kalium tinggi disaat musim hujan, adalah salah satu cara pencegahannya. Kalium yang tinggi mengakibatkan jaringan tanaman lebih kuat dan tidak mudah ditembus penyakit. Karena penyakit ini mudah muncul pada kelembaban tinggi, maka mengatur jarak tanam juga salah satu cara mengendalikannya. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida (contohnya Dithane M45/Antracol dengan dosis 1 gram/liter air) (Budiarto, 2007).


Berbagai Jenis Puring

1. Puring Apple
2. Puring Telur


3. Puring red apple


4. Puring Batik atau Anggur
5. Puring Kura-Kura


6. Puring Air Macur



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Puring yang eksotik. Artikel Tanaman Hias (Online). (http://www.c-
Publisher.com/News/Detail-News.asp), diakses 17 April 2009.
Budiarto, Slamet. 2007. Croton, Fenomena Baru Trend Tanaman Hias di Indonesia.
Artikel (Online). (http://www.vincanursery.com/2007022612/Artikel/croton-
Fenomena-baru-trend-tanaman-hias-di-indonesia.html), diakses 17 April 2009.
Purwanto, Arie W. 1999. Puring. Kanisius. Yogyakarta.
Rahma. 2009. Karakter Puring. Artikel Tanaman Hias (Online). (http://shopaholic.
Blogspot.com/puring-cantik/karakter-puring), diakses 17 April 2009.
Rahma. 2009. Syarat Tumbuh. Artikel Tanaman Hias (Online). (http://shopaholic.
Blogspot.com/puring-cantik/syarat-tumbuh), diakses 17 April 2009.
Steenis, Van. 2003. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Pradnya Paramita. Jakarta.
Wikipidia Indonesia. 2008. Codiaeum variegatum. Katalog Tanaman Hias (Online).
(http://www.wikipedia.org/wiki/Codiaeum_variegatum), diakses 26 April 2009.


semoga menambah wawasan kita...:)

2 komentar:

  1. Makasih ya atas informasi yang diberikan dapat menambah pengetahuan kita semua
    Salam kenal dari kolang kaling

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah dapat tambahan pengetahuan tentang puring...kebetulan lagi suka dgn tanaman puring..semakin dipandang semakin cinta sama puring yg punya daun dgn warna warna cantik

    BalasHapus